APKOMINDO
: ICT OUTLOOK DARI GELIAT PAMERAN AKBAR INDOCOMTECH 2015
Pada setiap peresmian Indocomtech secara rutin Ketua Umum Apkomindo, Dr Rudi Rusdiah merelis data industry Telematika yang dikumpulkan oleh Asosiasi Apkomindo, kali ini bekerjasama dengan analyst Gfk (Grow for Knowledge), majalah online Komite.id dan Kementrian terkait. Peresmian Indocomtech oleh Dirjen Aplikasi Telematika, Ir Bambang Heru; Deputi VII, KemenkoPolhukam dan Ketua DeskCyber, Marsekal Muda Agus Barnas bersama Ketum Dr Rudi Rusdiah ; Ketua DKI (pjs) Agus Setiawan; Ketua YAI Chris Japari dan Ir Hidayat Tjokrodjojo serta Corporate Secretary BRI dengan bersama sama menekan tombol peresmian. Pidato pembukaan Ir Bambang fokus pada pengembangan Startup Telematika dan membangun industry kreatif dan aplikasi Telematika, sedangkan Marsekal Agus Barnas pada Ketahanan Informasi dan Cyberspace menghadapi tantangan atau ancaman asimetris dan proksi di era Clouds dan Internet ini. Pengunjung pameran setiap tahunnya meningkat sejak 1992 hingga yang ke 23 dan tahun lalu menembus angka pengunjung 220,000 sebagai barometer industry dan pameran ICT terbesar se Asean.
Tahun lalu Asosiasi memprediksi Cloud Computing, IOT (Internet of Things) dan OTT (Over the Top) akan menjadi primadona industri Telematika di Indonesia, ternyata OTT dan Clouds berbasis Transaksi Perdagangan yang menjadi biang disruption (ledakan & gonjang ganjing) industry Telematika disusul oleh IOT yang sepertinya tumbuh lebih lambat mengikuti pertumbuhan eCommerce dan eBanking yang cepat. IOT menjadi tema Indocomtech 2015 yang didukung oleh aplikasi menunjang Smart City dan Virtual/ Augmented Reality. Konvergensi antara industry banking dan Telematika pun sudah Nampak seperti Bank BRI venture ke industry satelit dengan meluncurkan BRISAT nya, sedangkan perusahaan Telkom juga mulai masuk aplikasi perbankan dan trend tahun depan masyarakat bisa belanja dengan gadget Smartphone seperti Docomo di Jepang. Google pun tidak mau ketinggalan dari perusahaan kategori OTT kedepan akan venture di bisnis Jasa Akses Telekomunikasi dengan Google Loon, balon Internetnya yang cukup kontroversial, karena tentu para penyelenggara Telekomunikasi dasar seperti PT Telkom bisnisnya akan banyak dipengaruhi oleh masuknya Google yang juga memberikan akses Internet dipedalaman Papua, Ambon dan Kalimantan ?
Diskusi dengan Agus Barnas mantan pilot menyatakan bahwa high altitude balon mengorbit diatas 12 miles (20,000m); sedangkan pesawat komersial diatas 6 miles (10,000 m) semestinya aman, namun balon harus di maintenance dan mendarat serta take off sehingga disini harus sangat berhati hati mengingat Google didunia akan meluncurkan ribuan balon udara, tambahan pekerjaan dan objek yang harus dimontor oleh menara control penerbangan di tanah air ? Dari Dirjen Aptika tentu mempertanyakan mengenai lisensi sebagai operator Jastel atau JarTel atau Jaringan Khusus seperti Militer dan bagaimana dengan pendaftaran frekwensi 3G nya ? Di Silicon Valley, Presiden RI Jokowi mengutus Menkominfo Rudiantara bersama CEO Indosat; Telkomsel dan XL untuk diskusi kerjasama Google Loon ini, jadi teringat kasus pengadilan tipikor mengenai frekwensi antara Indosat dan direktur anak perusahaannya, bapak Indar.
Rumor soal razia
SNI di mal dan pertokoan Mangga Dua sempat dipertanyakan, namun
menurut pak Agus Barnas akan dikoordinasikan dengan KemenkoPolhukam
dan semestinya sikap Pemerintah pada kondisi ekonomi yang masih
gonjang ganjing rupiah diperlukan keteduhan dan bukan kegaduhan di
pasar. Kemudian disusul konperensi press oleh Menteri Perdagangan dan
PolRI sepertinya menjawab bahwa razia SNI ini bukan inisiatif dari
Kementrian Perdagangan dan PolRI. Kondisi di pameran pada hari Ketiga
masih sangat ramai dan padat, terutama yang mengikuti lelang dari
beberapa stan ecommerce serta aksi para gamer yang sangat marak di
Hall B. Sudah rutin stand Glodok Mangga Dua selalu penuh sesak
pengunjung seperti di Glodok tahun 1990 an.
Data indikator
Asosiasi: Pasar PC sejak 2013 memang menurun meskipun ditunjang oleh
meningkatnya tablet. Pasar fiture phone juga digerus oleh primadona
Smartphone, satu satunya yang meningkat 5% (2015). Namun pasar PC
tetap bertahan dapat dilihat dari semaraknya para gamer berkompetisi
dihall B Indocomtech 2015 memanfaatkan PC, serta semakin banyaknya
Server dan Storage di Data center dan Clouds seiring makin banyaknya
Smartphone.
Beberapa data
indikator 2015 yang mendisrupsi sektor Telematika Indonesia seperti
faktor: 1. Jumlah penduduk Indonesia 252 juta dimana ekonomi
menengahnya meningkat dan bonus demografinya positif; 2. Pengguna
Internet 150 juta; 80 juta memanfaatkan Social Media; 60 juta melalui
Smartphone dan 85.5 juta mulai aktif berjualan Online dengan
transaksi mencapai Rp 50 Trilyun, 75% melalui ATM dan Transfer
(eBanking) (Tempo:2015); 3. Majoritas memanfaatkan clouds via
aplikasi OTT voice and group messaging; social media, infotainment.
Seminar POP dengan keynote Ketua Apkomindo dan Micronics Group judul
“Enterprise Solutions: Future Clouds, Data Center, Big Data dan
IOT” disusul panel beberapa pemain besar Ecommerce seperti BLI BLI,
Gamer dan Augmented Reality mengingatkan kita akan trend dan disrupsi
yang terjadi di Industri Telematika Indonesia (rrusdiah@yahoo.com).